
OlahDana.com -- Bangun pagi, meregangkan badan di atas kasur springbed empuk. Ah, nikmatnya hidup. Sampai saya sadar, kasur ini baru masuk cicilan bulan ke-3 dari total 12 bulan. Selamat datang di kehidupan modern, di mana slogan "Beli Sekarang, Bayar Nanti" tampaknya lebih dihayati oleh generasi kita daripada butir-butir Pancasila.
Mari kita mulai rutinitas pagi. Buka aplikasi ojek online, pesan kopi susu gula aren andalan supaya kuat menghadapi kenyataan hidup. Pilihan pembayaran? Tentu saja PayLater, tenor 30 hari. Coba bayangkan, ngopi seharga Rp 25.000 saja harus ngutang. Es batunya sudah cair, kopinya sudah jadi ampas, tapi utangnya masih beku menanti di tagihan akhir bulan. Kita ini sebenarnya minum kopi buat melek, atau buat pura-pura lupa kalau limit PayLater kita lebih besar dari gaji UMR?
Siang hari di sela-sela jam istirahat kantor, jari ini seolah punya otak sendiri. Buka aplikasi e-commerce, lihat ada sepatu kets diskon 30%. Tombol "Beli Sekarang, Bayar Nanti" itu bentuknya mengkilap, seolah memanggil-manggil bak jin lampu Aladin yang menawarkan permintaan gratis.
Otak rasional di kepala kiri berbisik, "Gaji lu sisa lima ratus ribu, Bro. Udah tanggal tua." Tapi ego di kepala kanan menjawab dengan lantang, "Kan bayarnya bulan depan!"
Entah sihir apa yang dipakai aplikasi ini sampai kita sering berhalusinasi bahwa di bulan depan, kita akan mendadak kaya raya dan menjadi pewaris tahta kerajaan Inggris. Realitanya? Bulan depan kita tetaplah budak korporat yang gajinya cuma numpang lewat (bahkan kadang belum mampir udah disedot autodebet) buat bayar cicilan sepatu yang ujungnya sudah lecet tersandung aspal.
Generasi sekarang ini memang unik dan patut di-roasting habis-habisan. Kalau dompet kulitnya dibuka, isinya cuma KTP, kartu BPJS, dan struk minimarket yang tintanya sudah pudar. Tapi kalau buka aplikasi di HP, wih, limit PayLater gabungan bisa buat DP mobil bekas! Pepatah "Gaya elit, ekonomi sulit" itu bukan lagi candaan, tapi sudah jadi curriculum vitae harian kita. Kita lebih panik saat tahu limit PayLater diturunkan oleh sistem daripada saat tahu kolesterol kita naik.
Ada teman ngajak nongkrong di kafe aesthetic Jakarta Selatan, langsung gas. Pas ditanya, "Lagi banyak duit lu?" Jawabannya santai, "Banyak dong... banyak utangnya."
Malam hari, kembali berbaring di atas kasur cicilan tadi, saya mulai merenung. Menatap langit-langit kamar sambil membayangkan wajah debt collector virtual yang siap mengebom notifikasi di tanggal jatuh tempo. PayLater ini sebenarnya alat bantu atau jebakan?
Ini persis seperti yang sering dibahas di artikel-artikel keuangan—seperti yang ada di portal OlahDana yang judulnya E-Wallet dan PayLater: Membantu atau Menjebak?. Jawabannya sebenarnya simpel: tergantung siapa yang pegang. Kalau yang memegang fitur ini adalah orang bijak dengan perencanaan finansial matang, PayLater bisa jadi solusi arus kas di saat darurat.
Tapi masalahnya, kalau yang memegang adalah kaum mendang-mending haus validasi sosial seperti saya dan Anda? Ya otomatis jadi tali gantung finansial. Kita ini sering lupa bedanya "kebutuhan" dan "keinginan" hanya karena dimanjakan oleh kemudahan berutang. Kita menggadaikan ketenangan masa depan hanya demi Insta-story hari ini.
Pada akhirnya, esai reflektif ini adalah sebuah pengingat (baca: tamparan keras) buat kita semua. Uang masa depan itu belum tentu ada, jadi jangan dihabiskan hari ini untuk barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Besok-besok, kalau tangan gatal mau klik "Bayar Pakai PayLater" untuk checkout barang diskonan yang nggak penting, mending tepuk jidat kencang-kencang di depan kaca sambil bilang:
"Sadar woy, lu bukan Rafathar!"
